BERBAGAI jejak yang masih bertakhta meneguhkan bahwa Menggala memang
kota tua di Lampung. Banyak tempat dan tilas-tilas di bantaran Way
Tulangbawang itu masih menyimpan cerita yang menyejarah.
Aspek menonjol pada peninggalan sejarah salah satunya adalah
arsitektur. Mencermati rumah-rumah panggung di Menggala selintas mirip
denagan rumah-rumah bangsawan Jawa tempo dulu. Terbuat dari kayu tembesu
yang panjang mencapai 20 meter menambah eksotis rumah panggung keluarga
Warganegara.
Di beranda yang luas kita akan disambut beberapa furnitur khas awal abad
ke-18 dan 19. Di antaranya kursi kayu dan beberapa perabot rumah
tangga. Yang unik adalah tempat untuk meletakkan topi dan tongkat
menir-menir Belanda pada masa kolonial. Selain itu, ada sebuah kursi
putar yang terbuat dari kayu yang semakin menambah lengkap nuansa klasik
tempo dulu.
Menurut catatan tertulis yang terdapat di rumah bersejarah tersebut,
terahir kali direnovasi oleh Pangeran Warganegara IV pada tahun 1879.
Setelah itu dilakukan perbaikan, tapi tidak mengubah bentuk dan keaslian
bangunan, bila masuk ke dalam rumah kita akan disambut dengan pepadun
Sutan Ngukup (Pangeran Warganegara IV) yang dibuat pada abad ke-19 serta
beberapa benda lainnya seperti talam pemenganan bertarikh tahun
1650—1727 (semacam talam untuk makan) milik Krio Warganegara (Menak
Kesuhur) yang merupakan leluhur dari Pangeran Warganegara IV
(1852-1927).
Selain itu tak jauh dari rumah Warganegara terdapat sebuah Masjid
Agung Kibang yang telah mengalami beberapa kali pemugaran dan didaulat
sebagai masjid tertua di Lampung. Kemudian Juga Tangga Raja, yang konon
merupakan tempat sandar dan tempat menaiki perahu bagi raja-raja
Tulangbawang. Menurut sejarah, pada hari Minggu tanggal 1 Pahing bulan
Syakban 1194 H (awal abad ke-18) di Kibang, Menggala, Pangeran
Warganegara I, Pangeran Anggadijaya, Pangeran Saja Laksana, Pangeran
Wirajaya dan Natadiraja (mereka berlima adalah penggawa Lima
Tulangbawang) dibantu oleh Pangeran Muterjagad, Pangeran Robbana, dan
Marga Liyu mendirikan Masjid pertama di Desa Kibang, Menggala.
Masjid tersebut berbentuk pangung bertiang terbuat dari papan dan kayu
yang dikerjakan secara gotong royong oleh penduduk Kibang. Masjid
sederhana ini diresmikan tepat pada 1 Syawal 1194 H, tepatnya hari Rabu
dengan Marbot H. Ratu Bagus Mujahidin. Sedangkan Imam pertama Syekh
Zulaipah dan beberapa orang ustaz, seperti Tuan Alim, Tubagus M. Ali.
Tahun 1825 asisten residen Du Bois memerintahkan agar Kota Menggala
dibangun. Tak luput Masjid Kibang harus dipindahkan ke Kibang Libou dan
pada 1829 dibangun Masjid Kibang. Masjid Agung Kibang diresmikan tahun
1830 dengan Marbot pertama H.M. Thahir Banten. Menara Masjid Agung
Kibang dibangun tahun 1913 M (1332 H) dan dipugar tahun 1938 (1357 H)
dengan ketua panitia Pangeran Warganegara V (cucu dari Pangeran
Warganegara IV/Sutan Ngukup), Sekretaris M. Umar, Keuangan H.M. Said.
Setelah itu atau lebih tepatnya pascakemerdekaan sudah beberapa kali
masjid ini mengalami renovasi. Tempat terakhir adalah Tangga Raja.
Menurut hikayat masyarakat setempat, Tangga Raja adalah sebuah tangga
atau jalan setapak yang dahulu kala dipakai oleh raja-raja Tulangbawang
untuk turun ke perahu dan berlayar. Posisi Tangga Raja memang tepat
berada di hilir Sungai Tulangbawang.
http://rudimarfai.blogspot.com/2011/10/tempat-bersejarah-di-bumi-manggala.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar