1. Pengantar
Lampung
adalah sebuah provinsi yang letaknya paling selatan di Pulau Sumatera.
Di dalam provinsi ini penduduknya terbagi dalam beberapa suku bangsa
yaitu: Suku bangsa Lampung, Jawa, Sunda dan Bali (www.wikipedia.org).
Pada Sukubangsa Lampung sendiri terbagi menjadi dua bagian yaitu
Lampung Pepadun dan lampung Sebatin. Lampung Sebatin adalah sebutan bagi
orang Lampung yang berada di sepanjang pesisir pantai selatan Lampung.
Sedangkan, Lampung Pepadun1
adalah sebutan bagi orang Lampung yang berasal dari Sekala Brak di
punggung Bukit Barisan (sebelah barat Lampung Utara) dan menyebar ke
utara, timur dan tengah provinsi ini. Sebagaimana masyarakat lainnya,
mereka juga mereka menumbuh-kembangkan kesenian yang tidak hanya
berfungsi sebagai hiburan semata, tetapi jatidirinya. Dan, salah satu
kesenian yang ditumbuhkembangkan oleh masyarakat Lampung, khususnya
Orang Pepadun, adalah jenis seni tari yang disebut “tari cangget”.
Konon, sebelum tahun 1942 atau sebelum kedatangan bangsa Jepang ke Indonesia, tari cangget selalu ditampilkan pada setiap upacara yang berhubungan dengan gawi adat,
seperti: upacara mendirikan rumah, panen raya, dan mengantar orang yang
akan pergi menunaikan ibadah haji. Pada saat itu orang-orang akan
berkumpul, baik tua, muda, laki-laki maupun perempuan dengan tujuan
selain untuk mengikuti upacara, juga berkenalan dengan sesamanya. Jadi,
pada waktu itu tari cangget
dimainkan oleh para pemuda dan pemudi pada suatu desa atau kampung dan
bukan oleh penari-penari khusus yang memang menggeluti seni tari
tersebut.
Waktu
itu para orangtua biasanya memperhatikan dan menilai gerak-gerik mereka
dalam membawakan tariannya. Kegiatan seperti itu oleh orang Lampung
disebut dengan nindai. Tujuannya tidak hanya sekedar melihat gerak-gerik pemuda atau pemudi ketika sedang menarikan tari cangget,
melainkan juga untuk melihat kehalusan budi, ketangkasan dan keindahan
ketika mereka berdandan dan mengenakan pakaian adat Lampung. Bagi para
pemuda dan atau pemudi itu sendiri kesempatan tersebut dapat dijadikan
sebagai arena pencarian jodoh. Dan, jika ada yang saling tertarik dan
orang tuanya setuju, maka mereka meneruskan ke jenjang perkawinan.
2. Macam-macam Tari Cangget dan Gerakannya
Tarian cangget yang menjadi ciri khas orang Lampung ini sebenarnya terdiri dari beberapa macam, yaitu:
Walau tarian cangget
terdiri dari beberapa macam, namun tarian ini pada dasarnya mempunyai
gerakan-gerakan yang relatif sama, yaitu: (1) gerak sembah (sebagai
pengungkapan rasa hormat); (2) gerakan knui melayang (lambang keagungan); (3) gerak igel (lambang keperkasaan); (4) gerak ngetir (lambang keteguhan dan kesucian hati; (5) gerak rebah pohon (lambang kelembutan hati); (6) gerak jajak/pincak (lambang kesiagaan dalam menghadapi mara bahaya); dan (7) gerak knui tabang (lambang rasa percaya diri).
3. Peralatan, Busana, dan Perkembangannya
Peralatan musik yang digunakan untuk mengiringi tari Canget diantaranya adalah: (1) canang lunik 8--12 buah; (2) bende sebuah; (3) gujeh sebuah; (4) gong 2 buah; (5) gendang sebuah; dan (6) pepetuk 2 buah.
Busana yang dikenakan oleh penari perempuan adalah: (1) kain tapis; (2) kebaya panjang warna putih; (3) siger; (4) gelang burung; (5) gelang ruwi; (6) kalung papan jajar; (7) buah jarum; (8) bulu seratai; (9) tanggai; (10) peneken;
(11) anting-anting; dan (12) kaos kaki warna putih. Sedangkan busana
dan perlengkapan pada penari laki-laki adalah: (1) kain tipis setengah
tiang; (2) bulu seratai; (3) ikat pandan; (4) jubah; dan (5) baju sebelah.
Selain
peralatan musik dan busana bagi penarinya, tarian ini juga menggunakan
perlengkapan-perlengkapan pendukung lainnya, yaitu: (1) jepana (tandu usungan) yang dipakai pada saat mengantar dan menjemput tamu agung, sesepuh adat atau pun puteri kepala adat dan kutamara;
(2) tombak dan keris, dipakai pada saat tari igel; (3) talam emas,
dipakai untuk landasan menurunkan serta menaikkan para sesepuh atau
tetua adat dari Jepana memasuki Sesat Agung ataupun sebaliknya; (4) Payung adat yang warna putih (lambang kesucian) dan warna kuning (lambang keagungan).
Adapun lagu-lagu yang sering dinyanyikan untuk mengiringi tarian Cangget Agung adalah (1) tabuh mapak/nyabuk temui; (2) tabuh tari (tarey); (3) serliah adak; (4) mikhul bekekes; (5) gupek; dan (6) hujan turun.
Saat ini, seiring dengan perkembangan zaman, penyelenggaraan tarian ini semakin berkurang. Tarian cangget
tidak lagi ditarikan oleh para pamuda dan pemudi untuk saling
berkenalan, melainkan telah menjadi suatu tarian khusus yang dimainkan
oleh penari-penari tertentu (tidak sembarang orang) dan pada saat-saat
tertentu saja (upacara adat saja).
4. Nilai Budaya
Cangget
sebagai tarian khas orang Lampung Pepadun, jika dicermati, tidak hanya
mengandung nilai estetika (keindahan), sebagaimana yang tercermin dalam
gerakan-gerakan tubuh para penarinya. Akan tetapi, juga nilai kerukunan
dan kesyukuran.
Nilai
kerukunan tercermin dalam fungsi tari tersebut yang diantaranya adalah
sebagai ajang berkumpul dan berkenalan baik bagi orang tua, kaum muda,
laki-laki maupun perempuan. Dengan berkumpul dan saling berkenalan antar
warga dalam suatu kampung atau desa untuk merayakan suatu upacara adat,
maka akan terjalin silaturahim antar sesama dan akhirnya akan
menciptakan suatu kerukunan di dalam kampung atau desa tersebut.
Sedangkan
nilai kesyukuran juga tercermin dalam tujuan diselenggarakannya tarian
tersebut, yang merupakan salah satu unsur dalam penyelenggaraan suatu
upacara adat sebagai perwujudan rasa syukur kepada Sang Pencipta (Allah
SWT).
(pepeng)
Tari Sembah
Salah satu jenis tarian yang terkenal adalah Tari Sembah. Ritual
tari sembah biasanya diadakan oleh masyarakat Lampung untuk menyambut
dan memberikan penghormatan kepada para tamu atau undangan yang datang,
semacam tari penyambutan.
Selain sebagai ritual penyambutan, tari sembah pun kerap kali dilaksanakan dalam upacara adat pernikahan masyarakan Lampung.
Sumber:
Tim Koordinasi Siaran Direktorat Jenderal Kebudayaan. 1994. Khasanah Budaya Nusantara V. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
www.wikipedia.org diakses 30 Desember 2007
www.indosiar.com diakses 30 Desember 2007
|
Senin, 05 Maret 2012
Kesenian Tarian adat Lampung
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar